Menu

Blogging Book

Selama beberapa hari belakangan ini, saya kembali menulis secara manual. Kertas dan pulpen menjadi pegangan saya sehari-hari. Sebabnya mungkin karena saya kuliah lagi dan setiap hari, mulai Senin sampai Jumat, saya harus mencatat materi kuliah secara manual.

Tentu tidak mungkin saya menuliskan apa yang diajarkan dosen secara langsung di laptop. Memang, mahasiswa diizinkan membawa laptop ke dalam kelas. Lagi pula, setiap mahasiswa baru di kampus saya memamg mendapatkan bonus netbook. Saya sendiri tidak mengambil bonus itu karena, tanpa netbook, biaya uang masuk lebih murah, apalagi saya sudah punya dua laptop dan satu PC saat mendaftar dulu. Tapi, tentu tidak praktis kalau harus mencatat materi kuliah di laptop – apalagi jika lupa mengisi baterai.

Sebab yang kedua mungkin lebih romantis – saya harap bukan snob. Beberapa hari yang lalu, saya dolan ke rumah sahabat saya Indrian Koto di Wijilan. Seperti biasa, jika bertemu, kami banyak mengobrolkan hal yang gak penting. Nah, malam sudah sangat jauh ketika topik obrolan kami tiba-tiba sampai pada kegiatan menulis pada masa kecil atau remaja. Koto memperlihatkan beberapa buku tulis tua yang berisi tulisan tangannya sendiri. Ada juga beberapa buku tulis menarik milik cerpenis Raudal Tanjung Banua, kakak Koto.
Tampilan buku-buku tulis milik Mas Raudal itu terkesan “klasik”. Kertasnya sudah banyak yang menguning. Ada beberapa buku yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti kemasan buku-buku novel populer zaman 80-an. Semuanya ditulisi tangan (tulisan tangannya rapi sekali). Di balik sampul atau halaman Perancis tertulis identitas buku, seperti hak cipta dan pernyataan penafian percetakan.
Buku-buku itu adalah “novel” yang ditulis tangan. Titimangsanya sekitar 89-90-an – saya masih umbelen SD kelas 4 atau 5. Di bagian sampul belakang tertulis biografi pengarang (Mas Raudal). Ada juga halaman promosi untuk buku-buku yang akan terbit selanjutnya. Persis plek dengan kemasan novel-novel populer dekade 80-an.
Melihat “novel-novel” itu, saya mengingat lagi masa kecil dan masa remaja saya. Saya belum lama kenal tulisan dan sastra – saya baru mulai menulis dan bersastra secara serius sejak kuliah di Sastra Inggris UNY pada tahun 2000-an. Dulu saya lebih banyak menggambar walaupun sempat juga mengutak-atik puisi -bermain-main dengan rima dan sebagainya.

Nah, saya ingat, saya baru mulai menulis dengan kertas secara intensif lagi setelah mulai menulis sastra pada tahun 2000-an itu. Tapi, tulisan saya tersebar di lembaran-lembaran HVS yang saya pungut dari kantor BEM di kompleks Sarkem. Banyak yang sudah hilang entah ke mana. Tahun 2006-an, saya membeli sebuah buku tulis saku Gelatik Kembar dan mulai menulis di sana – saya masih menyimpannya. Isinya macam-macam, mulai dari serpihan puisi hingga curhat dan perhitungan keuangan – yang didominasi utang :D.

Setelah bergabung dengan Indonesia Buku, sebenarnya saya sudah jarang menulis di kertas lagi. Saya lebih banyak menulis di komputer karena dituntut untuk menghasilkan tulisan prosa yang bisa langsung diolah dan diserahkan kepada penata letak. Setelah bergabung dengan Melayu Online pada 2009-an, dan tidak pernah lagi menulis sastra secara intensif, saya total menulis dengan komputer karena pekerjaan mewajibkan saya untuk terhubung dengan internet sesering mungkin.
Memang, Melayu Online membagikan buku agenda – saya dapat dua – tapi saya jarang menggunakannya. Tentu saya masih menulis manual sesekali tapi hanya serpihan-serpihan puisi atau hitung-hitungan utang keuangan. Setelah mengundurkan diri dari Melayu Online dan bekerja secara individu sebagai penulis dan penerjemah lepas, saya selalu menulis di laptop.
Sepulang dari rumah Koto, saya membuka-buka internet untuk membaca apa saja. Entah kenapa, tiba-tiba saya telah membuka-buka blog dan situs tentang Moleskine. Tahu, kan? Moleskine adalah merek buku tulis eksklusif. Harganya ajib mahal betul, tapi tampilannya memang mewah dan, menurut beberapa review dari orang londo, sangat menyenangkan dan nyaman untuk menulis.
Saya tentu saja tertarik, tapi cukup tahu diri untuk memiliki buku catatan Moleskine dalam angan-angan saja (kere kreatif!). Saat itulah, saya tiba-tiba terpikir untuk menulis manual lagi.
Saya membeli beberapa buku tulis SIDU untuk mencatat materi kuliah. Awalnya, saya mencatat materi kuliah dalam buku batik Gelatik Kembar yang entah dari mana saya mendapatkannya. Jadi, catatan dari buku batik itu saya pindah ke buku tulis SIDU. Lama-kelamaan, saya merasakan kesenangan menulis manual hingga ketagihan.

Alhasil, buku tulis saku bersampul batik, mereknya juga Gelatik Kembar, menjadi korban tulisan tangan saya yang indah. Dan sejak itu, saya tidak bisa berhenti menulis di kertas. Tangan cepat pegal tapi saya selalu kembali meraih buku tulis dan pulpen.

Bahkan, saya membuat tulisan untuk pekerjaan saya di buku tulis juga, padahal, hasil tulisan itu dipublikasikan di blog. Dulu (sebelum euforia menulis manual, maksud saya), saya menulis pekerjaan secara offline di Word sebelum dikopi-paste ke kolom postingan di blog itu. Tapi, saya sekarang menulis di kertas dulu, lalu menuliskannya secara langsung di kolom postingan.
Memang mindon gaweni, tapi saya merasa senang, jadi tetap saya lakukan. Tapi, untuk pekerjaan terjemahan yang menggunakan perangkat lunak, mau tak mau saya tetap bekerja dengan komputer.
Karena sedang dilanda euforia menulis manual pula saya memperoleh ide untuk membeli buku tulis lebih banyak lagi. Saya membayangkan, saya bisa menulis novel, puisi atau cerita pendek lagi seperti Mas Raudal itu dengan menggunakan buku tulis.
Lagi pula, saya membayangkan, tentu akan lebih mudah dan praktis untuk menulis di mana-mana dengan kertas dan pulpen. Apalagi, laptop saya (pinjaman dari kekasih tercinta) sedang rusak keyboard dan tetikusnya sehingga tidak bisa dibawa ke mana-mana – saya menggunakan keyboard eksternal untuk mengetik dan kipas angin untuk mendinginkan laptop (bikin saya sering masuk angin).
Saya juga terpikir untuk membuat tulisan untuk blog ini dengan buku tulis – sudah mulai saya lakukan dengan tulisan pertama ini. Jika diperlukan tautan, teks yang akan diberi tautan digaris-miring dulu dan baru diberi tautan setelah disalin ke blog. Tentu saja, tautan yang diperlukan harus di-bookmark lebih dulu, atau dicarikan setelah tulisan tangan disalin ke blog.
Jadi, baik menulis tangan maupun menulis di komputer, saya tetap harus lebih dulu membaca di internet – atau membaca buku. Untuk blog pribadi ini, tautan tidak begitu diperlukan karena isinya lebih sering curhat dan pemikiran pribadi sehingga saya bisa menulis di buku tulis dengan lebih fokus.
Saya curi salah satu buku SIDU yang sedianya akan digunakan untuk catatan kuliah. Saya jadikan buku ini “blogging book” – sebuah buku tulis khusus untuk membuat tulisan untuk blog pribadi ini. Mudah-mudahan dengan begini saya lebih rajin mengisi blog ini.
Bagaimana dengan Anda, masih menikmati menulis di laptop?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *