Menu

Biopiracy Terbesar dalam Sejarah

Pada tanggal 10 Juni 1876, seorang penjelajah dan petualang bernama Henry Wickham tiba di Liverpool bersama istrinya, Violet, dengan kapal laut yang berlayar dari Brasil. Ia cepat-cepat menuju London dan kantor the Royal Botanic Gardens, yang dikenal umum dengan nama Kew Gardens. Di sana ia menunjukkan kepada direktur lembaga itu, Joseph Dalton Hooker, contoh dari kargo yang sangat berharga: 70.000 bibit karet yang sangat berharga yang bernama “Par¿ fine”. Nama botaninya adalah Hevea brasiliensis, atau hevea.
 

Wickham telah melakukan aksi “biopiracy”. Ia mencuri bibit khas dari rimba Amazon dan memberikannya kepada Imperialis Inggris Raya agar dibudidayakan di koloni-koloni Asia. Henry tidak hanya mencuri satu bibit, melainkan 70.000 bibit. Tiga puluh empat tahun setelah pencurian Henry, karet yang diproduksi Inggris di Timur Jauh akan membanjiri pasaran dunia, membuat kolaps perekonomian Amazon dalam satu tahun, dan menempatkan kekuasaan sumber daya utama di satu tangan.

Pada tahun 1920, ketika Henry dianugerahi gelar “Sir” dan ditabalkan sebagai “bapak industri karet Inggris Raya”, orang Brazil menyebutnya “algojo Amazon”, “pangeran para pencuri”, dan menganggap pencuriannya “tak dapat dibela dengan hukum internasional mana pun”. Pencurian Wickham itu memang memicu akibat yang tak main-main. Walaupun bibit-bibit yang dibawanya membutuhkan cukup banyak waktu untuk tumbuh dan memroduksi pohon karet, namun bibit-bibit hevea itu telah disebarkan ke seluruh penjuru dunia—Selangor, Malaka, British Borneo, India, Burma, Afrika Timur yang dikontrol Jerman, Mozambik yang dikuasai Portugal, dan Jawa”.

Pada tahun 1913, beberapa saat sebelum Perang Dunia I pecah, Inggris telah memantabkan kejayaan karetnya. Pada tahun itu, perkebunan-perkebunan Inggrus memroduksi 47.618 ton karet bermutu tinggi, sedangkan Brazil memroduksi 39.370 ton. Pada tahun 1916, produksi karet Brazil masih sama, namun dalam tiga tahun itu perkebunan-perkebunan Inggris telah memroduksi hevea yang cukup untuk memenuhi 95% kebutuhan karet dunia.

Biopiracy bertalian erat dengan kekuasaan dan ketidakseimbangan—fakta historis menunjukkan bahwa negara-negara miskin memiliki sumber daya yang melimpah sementara negara-negara kaya sangat membutuhkannya—dan dapat mengambil—apa pun yang mereka inginkan. Pencurian Wickham menjadi simbol bagi semua tindakan eksploitasi atas Dunia Ketiga dan memunculkan isu yang mungkin tidak akan pernah rampung dibahas: siapakah yang memiliki hak atas kekayaan Bumi?

Walaupun hukum internasional menegaskan bahwa setiap bangsa menguasai sumber dayanya sendiri, namun praktek yang umum adalah bahwa “alam, dan pengembangannya,” adalah milik umat manusia, atau, lebih tepatnya, milik siapa saja yang punya kekuatan untuk mengontrolnya.

Catatan: tulisan ini adalah rangkuman dari resensi buku oleh Jonathan Yardley untuk “Thief at the End of the World” karya Joe Jackson yang pernah dimuat di washingtonpost.com (lebih lengkapnya buka di sini).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *