Menu

Bencana Alam dalam Sastra Indonesia Modern

Tidak banyak karya fiksi kita yang berhasil memanfaatkan peristiwa bencana alam menjadi unsur yang kokoh dan tak tergantikan dalam bangunan kisah. Sebagian besar hanya menempatkan banjir bandang dan kemarau panjang sebagai pendukung bagi deskripsi latar belaka, sehingga bencana alam yang sampai kepada pembaca mirip dengan bencana alam dalam berita-berita yang impersonal dan berjarak.

Di antara yang tidak banyak itu kita dapat menyebut “Kemarau” (1957) karya AA Navis. “Kemarau” memberikan peran tambahan kepada bencana alam. Selain sebagai pendukung deskripsi latar, musim kemarau yang panjang di dalam novel ini juga berperan sebagai causa prima bagi cerita, tepatnya sebagai pemicu dinamika kejiwaan dan perilaku tokoh-tokohnya. Dengan begitu, musim kemarau adalah bagian yang inheren dalam kisah dan tak dapat digantikan oleh musim yang lain.

Dengan latar musim kemarau yang berkepanjangan, “Kemarau” mengungkapkan usaha tokoh bernama Sutan Duano untuk meyakinkan penduduk sebuah kampung untuk bekerja keras melawan kekeringan.

Di awal novel ini digambarkan bagaimana penduduk kampung itu, yang umumnya petani, menghadapi musim kering yang telah merusak sawah mereka:

“Setiap pagi dan sore para petani selalu memandang langit, ingin tahu apakah hujan akan turun atau tidak. dan setelah tanah sawah mulai merekah, mulailah mereka berpikir. Ada beberapa orang pergi ke dukun… Tapi dukun itu tak juga bisa berbuat apa-apa setelah setumpukan sabut kelapa dipanggang bersama sekepal kemenyan… Dan setelah tak juga keramat dukun itu memberi hasil, barulah mereka ingat pada Tuhan. Mereka pergilah setiap malam ke masjid mengadakan… sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga… Lalu mereka lemparkan pikirannya dari sawah, hujan setetes pun tak mereka harapkan lagi…. Dan untuk membunuh rasa putus asa, mereka lebih suka main domino atau main kartu di lepau-lepau.” 


Menurut Sapardi Djoko Damono dalam pengantar buku ini, dengan pasase itu jelas-jelas Navis menyindir segala usaha yang telah dilakukan manusia untuk mengubah keadaan. Dalam upaya manusia tersebut, tampaknya dukun, Tuhan, dan kartu domino menduduki posisi yang tak berbeda: mereka semua merupakan tempat pelarian manusia dari rasa putus asa. Segala hal yang telah dilakukan itu menjadi tampak absurd, konyol, atau setidaknya mirip karikatur.

Berbagai tindakan yang mungkin sekali dilakukan dengan tulus dan yakin itu seolah-olah menjadi sia-sia dan sedikit lucu (1992: vi-vii). Sutan Duano, lelaki yang digambarkan berusia sekitar 50 tahun dan tinggal di surau, adalah satu-satunya manusia yang “berbuat lain”. Ia juga digambarkan lebih suka hidup menyisih. Asal-usulnya tidak begitu jelas bagi orang kampung. Ia datang pertama kali ke kampung itu pada akhir pendudukan Jepang dan diberi tempat berteduh berupa sebuah surau oleh kepala kampung. Orang di kampung itu biasanya menganggap orang yang tinggal di surau “adalah untuk menghabiskan sisa umurnya sambil berbuat ibadah melulu, sembahyang, zikir, dan membaca Quran sampai mata jadi rabun. Memang itulah gunanya surau dibuat orang selama ini”.

Namun, Sutan Duano berbuat lain. Ia menghabiskan waktunya dengan kerja keras. Ia tidak memberi perhatian terhadap kegiatan rohani sebagaimana lazimnya dan justru memusatkan perhatiannya pada kolam ikan dan sawahnya. Uang yang diperolehnya dari kerja “kasar” itu membuat ia berhasil menumpuk kekayaan dan menjadi orang yang dihormati di kampung. Perwatakan yang karikatural ini menekankan pentingnya memeras keringat, terutama sekali di daerah yang tandus seperti daerah yang menjadi latar tempat dalam novel ini.

Karikatur Sutan Duano ini juga menimbulkan absurditas. Pembaca digiring untuk membayangkan seorang lelaki setengah baya di musim kemarau yang terik memikul dua belek seharian berjalan mondar-mandir mengambil air dari danau untuk dituangkan ke sawah dan kolamnya. Ciri karikatur yang absurd ini ditebalkan oleh sifatnya yang tak suka bergaul dan asal-usulnya yang tak begitu jelas. Ia muncul begitu saja di kampung itu, bekerja keras, dan membujuk penduduk kampung untuk mengikuti teladannya.

Sosok Sutan Duano menjadi mirip dengan Robon Hood atau Superman. Ia muncul, entah dari mana, di suatu tempat yang kacau untuk memberikan pertolongan kepada penduduk. Ia sudah berusaha meyakinkan pentingnya upaya mengangkut air danau ke sawah dengan cara bergotong royong kepada kepala kampung, petani yang memiliki sawah luas, ibu-ibu dan entah siapa lagi. Usaha itu semua kandas. Akhirnya ia melaksanakan gagasannya sendiri, yang dianggap aneh oleh penduduk kampung.

Sutan Duano hanya berhasil mengadakan komunikasi dengan Acin, bocah berusia 12 tahun, anak seorang janda yang bernama Gudam. Ia berhasil menjalin persahabatan dan meyakinkan anak itu bahwa apa yang oleh orang kampung dianggap perbuatan gila, sebenarnya merupakan sesuatu yang sudah sepatutnya dilaksanakan untuk memperbaiki nasib manusia. ia berhasil mengajak Acin mengangkut air dari danau untuk mengairi sawah mereka, di samping berhasil menarik perhatian Gudam (yang di akhir cerita, dengan sangat tiba-tiba, menjadi istri Sutan Duano).

Bisa ditebak, sindiran Navis dalam novel ini menggemakan sindiran yang lebih dulu dihadirkannya dalam “Robohnya Surau Kami” (1955). Bagi Navis, perilaku yang berpretensi rohaniah dan religius tak selamanya merupakan pemecahan bagi masalah, baik yang berupa bencana bikinan manusia maupun bencana alam, yang tentunya merupakan ujian dari Tuhan. Navis lebih percaya kepada kepribadian manusia yang kokoh dan mandiri untuk mengatasi ujian itu, dan bukannya kepasrahan yang sebenarnya justru merupakan pelecehan atas “kepercayaan” Tuhan bahwa manusia, dengan kemampuan yang telah dilimpahkan-Nya, mampu mengatasi ujian itu.

Ada satu fragmen dalam novel ini yang unik, yaitu tentang datangnya Sutan Duano ke Surabaya untuk menemui putranya yang telah lama berpisah darinya. Diceritakan bahwa ibu mertua putranya itu bersikeras melarang Sutan Duano datang. Rupanya, si ibu mertua adalah salah satu bekas istri Sutan Duano. Menantu Sutan Duano tidak lain adalah putrinya sendiri. Jadi, kedua anak itu tanpa disadari telah melakukan incest. Sang mertua membiarkan hal itu terjadi karena tidak ingin merusakkan rumah tangga mereka yang telah berjalan harmonis.

Namun Sutan Duano tak mau membiarkan dosa itu terjadi. Ia mengungkapkan kepada putra-putrinya itu keadaan mereka yang sebenarnya. Mereka pun bercerai. Saya ingat pada sebuah cerpen, karya Navis juga, bertajuk “Datangnya dan Perginya” yang terdapat dalam kumpulan Robohnya Surau Kami. Permasalahannya sama dengan fragmen itu, bahkan nama tokoh utamanya dan putra Sutan Duano juga sama: Masri. Namun akhir masalahnya berbeda. Jika dalam Kemarau Sutan Duano mengambil langkah yang menurutnya benar dan sesuai dengan tuntutan agama, walaupun risikonya adalah rusaknya kebahagiaan rumah tangga putra-putrinya, maka dalam cerpen itu tokoh ayah membiarkan saja “dosa” itu dengan harapan agar kebahagiaan rumah tangga Masri tetap terjaga.

Kerukunan dan keharmonisan adalah hal yang terpenting dalam cerpen ini. Dua akhir yang berbeda itu seperti mengisyaratkan betapa berkuasanya pengarang Navis atas jalan hidup para tokohnya. Dan, tentu saja, perbedaan (perkembangan?) tafsirnya atas salah satu item dalam nilai-nilai keagamaan. Mungkin, semula pengarang Navis tidak dapat menerima “dosa” incest itu dengan alasan keagamaan. Namun pada akhirnya ia mengubah pendapatnya: perbuatan dosa yang tak disadari adalah bukan dosa, dan lebih baik dibiarkan saja demi tetap terjaganya harmoni.***

 

One Comment
  1. Anonim 2 November 2009

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *