Menu

Aib yang Memikat

Judul: Sejarah Aib
Penulis: Jose Luis Borges
Penerbit: Pustaka Sastra, 2005

Tebal: 150 halaman

Saya terlambat membaca Sejarah Aib. Buku ini sudah terbit dalam bahasa Indonesia enam tahun lalu, tepatnya pada Januari 2006. Aneh juga rasanya saat itu saya melewatkan buku sebagus ini. Padahal saat itu saya masih rakus dan punya banyak waktu untuk membaca.

Mungkin, penyebabnya adalah sampul yang didominasi warna krem dan biru. Sekilas, sampulnya mirip Caldaz-nya Gabriel Garcia Marquez, yang pernah saya beli. Mungkin karena itulah saya tak begitu memperhatikannya saat dipajang di rak toko buku. Apalagi penerbitnya sama: Pustaka Sastra, LKIS.

Bagaimana pun, baru kali ini saya membaca Sejarah Aib. Dan, seperti ketika saya membaca Labirin Impian, saya pun takjub. Mungkin, ketakjuban ini juga dilapangkan oleh hasil terjemahan Arief B. Prasetyo. Mas Arief berhasil menjaga nuansa satir, parodi dan “barok” buku ini – menurut istilah Borges sendiri dalam bagian pengantar.

***

Buku ini tipis saja, hanya 150 halaman. Bahan asal penerjemahan adalah edisi 1954, atau edisi yang diterbitkan sekitar dua puluh tahun setelah buku ini pertama kali terbit pada 1935. Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian, atau Bab, menurut istilah pengarangnya sendiri.

Bab pertama adalah “Sejarah Aib Universal”, berisi tujuh prosa naratif (jika tidak bisa dikatakan cerpen). Narasi-narasi ini berpusar di sekitar seorang tokoh penjahat, atau orang-orang yang menjadi “aib” dalam ingatan kolektif resmi. Latar tempat meliputi Amerika Selatan, Amerika Serikat, Persia, Jepang, dan China.

Bab kedua, “Lelaki Pojok Jalan”, berisi satu narasi dengan judul yang sama. Narasi ini adalah hasil karangan Borges sendiri. Bab ketiga adalah “Dan Lain-lain”, berisi narasi yang dicuplik atau diterjemahkan begitu saja dari khasanah kesusastraan lain.

***

Para tokoh dalam “Sejarah Aib Universal” memang aib jika melihat akibat perbuatan mereka. Mereka keji dan gampang membunuh. Namun, mereka juga contoh-contoh kejernihan dalam berpikir, menyusun metode, dan keberanian luar biasa dalam melaksanakan rencana.

Sang Penebus Bengis, Lazarus Morell, misalnya, adalah manipulator budak, bukan pedagang budak biasa. Ia tidak menculik orang-orang negro dari Afrika atau mencuri budak yang sudah dikurung di perkebunan.

Metodenya sederhana: ia mendatangi seorang budak di sebuah perkebunan. Ia janjikan bantuan untuk membantu budak itu kabur. Setelah berhasil kabur, si budak akan dijual lagi, dengan persetujuan si budak. Pasalnya, si budak harus membayar biaya bantuan Morell. Hasil penjualan kembali itu dibagi dua, untuk si budak dan untuk si Morell.

Sebagai pemanis, Morell menjanjikan untuk pada akhirnya membantu si budak lari ke negara bagian yang bebas. Tentu, para budak itu tidak pernah sampai ke negeri yang dijanjikan. Mereka selalu dibantu kabur, dijual lagi, dibantu kabur lagi, dijual lagi dan seterusnya.

Mencuri budak adalah tindakan melanggar hukum. Bila budak yang ditipunya mulai bertingkah dengan bocor mulut kepada penegak hukum, Morell menghabisinya begitu saja, lalu mencari korban lain.

***

Penyaru yang Payah, Tom Castro, adalah contoh kejernihan dalam berpikir dan menyusun rencana. Tentu, Castro juga, selama beberapa saat, dinaungi keberuntungan. Selama 14 tahun, seorang ibu kaya raya di Inggris tak percaya bahwa putranya sudah meninggal di Amerika Selatan. Ia terus memasang iklan duka cita di surat kabar, berharap putranya membaca iklan itu dan kembali.

Castro membaca iklan duka cita di surat kabar itu. Ia memutuskan untuk menyaru menjadi putra yang hilang. Sungguh pun secara fisik ia tak mirip dengan sang putra yang merupakan perwira militer saat dinyatakan meninggal.

Castro memanfaatkan masa 14 tahun di mana sang ibu tak tahu persis tentang apa yang terjadi dengan putranya. Fakta-fakta dimanipulasi, imajinasi menjadi kenyataan, dan sang ibu percaya sampai saat wafatnya.

Namun, pihak-pihak yang sangsi menuntut Castro di pengadilan. Proses berlangsung 190 hari. Akhirnya Castro dinyatakan bersalah dan dihukum kerja paksa selama 14 tahun.

***

Puteri Bajak Laut Janda Ching, Pemasok Kezaliman Monk Eastman, Pembunuh Tanpa Pamrih Bill Harrigan. Dibanding Morell dan Castro, mereka kurang teliti dalam memikirkan strategi. Namun, mereka mengimbangi kekurangan intelek mereka dengan keberanian dan pameran kekuatan fisik yang luar biasa.

Puteri Bajak Laut Janda Ching adalah perempuan yang dingin. Matanya sayu dan senyumnya memperlihatkan gigi yang rusak. Rambutnya kehitaman dan berminyak, memancarkan kilau yang lebih cerlang ketimbang cerlang matanya.

Di bawah perintahnya yang tegas, kapal-kapal bertolak menyongsong bahaya dan laut lepas. Selama 13 tahun, ia pimpin petualangan sistematis yang menggentarkan pesisir Laut Kuning. Kekaisaran membutuhkan berkali-kali ekspedisi untuk menangkap perempuan pemberani ini.

Ia tetapkan peraturan yang, jika dilanggar, akan berakibat hukuman mati bagi si pelanggar. Termasuk, atau terutama, dalam hal-hal yang berhubungan dengan kaumnya. Misal: dilarang berhubungan kelamin di dek kapal dengan tawanan perempuan yang diambil di desa-desa.

Izin penggunaan kekerasan terhadap perempuan mana pun harus diajukan terlebih dahulu kepada perwira kapal. Jika diijinkan, kekerasan itu hanya boleh dilakukan di ruang bawah dek kapal. Pelanggaran atas aturan ini akan diganjar hukuman mati.

***

Monk Eastman memimpin dua ratus paling laki-laki brutal di New York City pada peralihan abad ke-20. Ia kutip uang keamanan dari rumah judi, rumah bordil, pelacur, garong dan tukang copet di kerajaannya.

Ia juga melayani para politisi yang ingin membereskan masalah tanpa melalui jalur demokrasi. Tarifnya berbeda-beda untuk setiap kekejaman yang dilakukan kepada korban. Namun, ia berebut batas wilayah dengan jagoan lain, Paul Kelly.

Pada suatu pagi, Eastman sendirian menyerang tapal batas. Ia lumpuhkan beberapa bajingan, namun ia sendiri cedera parah. Keluar dari rumah sakit, ia pimpin aksi balas dendam. Jalan Rivington, salah satu jalan paling ramai di New York, menjadi palagan. Empat orang mati, tujuh luka parah, dan seekor burung merpati mati.

Para politisi, yang enggan mengakui keberadaan geng-geng semacam itu, berusaha mendamaikan. Monkman dan Kelly diperhadapkan dalam sebuah ring tinju. Tak ada pemenang. Pertandingan berakhir seri. Seminggu kemudian, tawuran pecah lagi dan Monkman ditangkap.

Di tahun 1917, Monkman ditangkap karena bikin keonaran umum. Esok harinya, ia mendaftar jadi pasukan Infanteri ke-106 Garda Nasional New York. Di Eropa, dalam Perang Dunia I, ia mengharumkan namanya di berbagai front. Penjahat itu menjadi pahlawan. Namun, ia ditemukan sebagai mayat pada hari Natal 1920. Lima luka tembak bersarang di tubuhnya.

***

Bill Harrigan, lebih dikenal sebagai Billy The Kid, tidak memperhitungkan orang Mexico sebagai korban. Jadi, ia terkenal karena membunuh 21 orang, tapi orang Mexico tak masuk dalam hitungan itu.

Pada usia 14 tahun, ia bunuh korban pertamanya, orang Mexico – yang tak dihitung. Ia populer, disegani sekaligus ditakuti di kalangan orang berbahasa Inggris maupun orang Mexico. Pengusaha dan penegak hukum New Mexico membencinya mati-matian.

Keterampilannya berpistol sempurna. Latihannya: menembak kaleng dan manusia – kebanyakan orang Mexico. Tapi ia juga piawai memimpin manusia. Selama tujuh tahun, ia pimpin gerombolan pencuri ternak yang ngawur namun kompak.

Di usia 21 tahun, ia dibunuh sahabatnya sendiri yang berkhianat, sherif Pat Garrett. Sekaratnya berlangsung lama dan sarat hujatan kepada Tuhan. Mayatnya dipamerkan selama empat hari di jendela toko terbesar di Fort Sumner untuk dicemooh dan dikagumi.

***

Guru Tata Krama yang Kurang Ajar Kotsuke no Suke bukan fokus sebenarnya dalam narasi. Kotsuke memang tak layak dikenang kecuali sebagai aib. Apalagi, ia keder ketika ditawari mati secara terhormat setelah kalah dan terbukti bersalah: harakiri.

Seorang duta Mikado (Kaisar Jepang) akan datang ke puri Ako yang dipimpin Asano Takumi no Kami. Kotsuke lebih dulu datang dari istana Kaisar ke puri itu untuk mengajar tata krama bagi putra penguasa puri Ako.

Pongah dan congkak, Kotsuke memaki-maki putra Takumi karena salah menyimpulkan tali kasutnya. Takumi murka dan menghantamkan golok ke kepala sang guru. Kotsuke kabur dan melapor kepada dewan militer.

Kotsuke adalah utusan Kaisar. Takumi dianggap melakukan penghinaan kepada Kotsuke dan dengan demikian juga terhadap Kaisar. Hukumannya: Takumi diperbolehkan mati secara terhormat dengan melakukan harakiri. Di hari eksekusi, ajudan Takumi, Oishi Kuranosuke, memenggal kepala tuannya untuk pastikan kematian.

Kuranosuke yang frustrasi pindah ke Kyoto. Kendati rambutnya mengelabu, dia bergaul dengan pelacur dan penyair, dan jenis-jenis manusia yang bahkan lebih mengenaskan lagi. Tapi dia kumpulkan rekan-rekannya untuk membelas dendam.

Atas nama keadilan paripurna, Kuranosuke dan pasukannya menyerbu istana Kotsuke. Prajurit Kotsuke kalah dan sang tuan terpojok. Demi kehormatan tuannya, Kuranosuke tawarkan Kotsuke untuk mengakui kekalahan dengan melakukan bunuh diri.

Kotsuke yang pengecut tak mau harakiri. Kuranosuke terpaksa memenggal kepala guru tata krama yang kurang ajar itu. Mahkamah Agung memproses kasus balas dendam itu. Hukuman kepada Kuranosuke dan rekan-rekannya: bunuh diri. 47 lelaki yang setia itu dimakamkan di samping tuan mereka.

***

“Lelaki Pojok Jalan” adalah narasi ciptaan Borges sendiri yang, seperti biasa, punya alur mengejutkan dan memberikan kenikmatan tersendiri dalam membaca. Sementara itu, “Dan Lain-lain” lebih merupakan kompilasi narasi-narasi prosa yang diterjemahkan atau dinukil begitu saja dari sumber-sumber lain – sebagai kepala perpustakaan, Borges punya bejibun sumber seperti itu.

Sejarah Aib benar-benar sebuah bacaan bermutu kelas wahid.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *