Menu

50 Tahun Things Fall Apart

Meskipun ditulis oleh seorang Nigeria dan ceritanya pun berlatar negeri itu, namun novel ini ditabalkan sebagai pintu gerbang yang “wajib” dilalui untuk memasuki jagat batin orang Afrika pada umumnya.

Chinua Achebe menulis Things Fall Apart ketika usianya masih berada di pertengahan 20-an. Ia berniat menjadikan novel itu sebagai bogem untuk menghantam kesusastraan Barat, yang turut berperan dalam hegemoni Barat atas Afrika/nonBarat sebagaimana yang ditelanjangi oleh Edward Said dalam Orientalisme.

Lewat novel ini ia ingin agar Afrika menceritakan dirinya sendiri. Seteru utamanya adalah Heart of Darkness (“Jantung Kegelapan”) karya Joseph Conrad, pelaut yang kemudian menjadi penulis novel-novel laris tentang benua-benua eksotis (tentu saja dari sudut pandang Barat).

Things Fall Apart menceritakan Afrika dari sudut pandang yang berlawanan dengan “Heart of Darkness”, tepatnya melalui seorang pemimpin suku Igbo bernama Okonkwo. Ia adalah seorang pemimpin yang penting, punya kekuasaan yang besar dan keukeuh pada tradisi. Begitu teguhnya ia memegang tradisi hingga ketika orang-orang kulit putih datang, ia remuk redam oleh perubahan yang mereka bawa.

Namun demikian, sejak jauh-jauh hari Achebe menekankan bahwa Things Fall Apart tidak mengidealisasikan Nigeria. Okonkwo memang dilukiskan sebagai pemberani dan orang yang terhormat serta mewakili Afrika, tetapi ia juga memiliki sisi gelap. Okonkwo memukul istrinya dan membunuh seorang bocah. Tradisi Igbo lain yang kejam juga dilukiskan, misalnya tradisi meninggalkan bayi kembar di semak-semak agar mati karena bayi kembar dianggap perlambang buruk, atau tradisi mutulitasi atas tubuh anak-anak yang mati agar rohnya tidak menganggu ibunya. Achebe cenderung ingin menunjukkan betapa destruktifnya kolonialisme bagi Afrika.

Tahun ini novel klasik itu berulangtahun yang ke-50. Sepanjang umurnya yang sudah tak lagi muda itu, novel ini telah terjual lebih dari 11 juta kopi di 50 negara. Yang lebih penting lagi, novel ini telah menjadi fondasi bagi pemahaman para pembaca sastra dunia non-Afrika atas dunia “hitam” tersebut, dan menciptakan pencitraan yang populer di benak pembaca hingga hari ini. Dalam konteks interaksi antarbudaya, beberapa kritikus meletakkan novel itu sebagai praksis dari wacana perlawanan poskolonial melalui kesusastraan, yang dikawal juga oleh nobelis VS Naipaul dengan A House for Mr Biswas.

Things Fall Apart memang telah menjadi salah satu karya abadi, namun demikian ia sekaligus juga menjadi milik masa lalu. Afrika telah banyak berubah sejak dekade 60-an itu. Katastrofi yang melanda Afrika sebagaimana dituliskan Achebe dan pemahaman pembaca kontemporer tentang benua itu akan sukar “ketemu”. Dunia Nigeria dan negara-negara Afrika lain kini adalah dunia yang dipenuhi mobil, klub-klub malam, rumah sakit, institusi modern, persenjataan modern dan tata politik modern yang diimpor dari Barat.

Achebe pun rupanya telah menyadari hal itu, atau lebih tepatnya “meramalkan”—tentu saja dengan intuisi dan subyektivitas seorang sastrawan. Dua tahun setelah novel legendaris itu, ia menerbitkan sebuah novel berjudul No Longer at Ease, yang tidak lagi memandang dan meratapi masa lampau, tetapi berusaha melihat pada keadaan yang ada “di sini” dan “kini”. No Longer at Ease bisa dianggap sebagai sekuel bagi Things Fall Apart, walaupun secara resmi Achebe tidak menyatakannya demikian. Novel ini berkisah tentang Obi Okonkwo, cucu dari hero tragis Okonkwo dalam Things Fall Apart. Sebagaimana kakeknya, Obi pun menjadi kebanggaan bagi desanya. Sepulang dari tugas belajar di Inggris, Obi digadang-gadang menjadi salah satu pemimpin Nigeria ketika negeri itu hendak menyatakan kemerdekaannya.

Namun Obi menghadapi dunia yang berbeda dari dunia yang dihadapi kakeknya. Dunia Obi adalah dunia semu-Barat (quasi-Wsetern) yang dibangun setelah dunia lama remuk redam oleh pertemuan (perbenturan) antara orang kulit hitam dengan orang kulit putih. Obi tertarik-tarik antara nilai-nila lama dan baru. Ia mendapat beasiswa, jatuh cinta dengan wanita yang ditolak oleh orangtuanya, mendapat pekerjaan di instansi negeri.

Tetapi tragedi Okonkwo, seperti kutukan turun-temurun, menimpa cucunya. Ketika pertama kali tiba di Nigeria, Obi menjalani hidup yang tenang dan menyenangkan sebagai orang yang berpendidikan Barat. Namun kemudian hutang-hutangnya menumpuk. Lama kelamaan ia tak bisa bertahan dari godaan. Ia menghancurkan nilai-nilai tradisional sekaligus hukum-hukum baru dengan melakukan korupsi. Obi terjerumus semakin dalam hingga ia menjadi jenis orang yang dulu sangat ia benci.

Bagi beberapa kritikus, No Longer at Ease adalah novel Achebe yang lebih relevan dengan situasi Afrika saat ini. Things Fall Apart menyoal tentang kehancuran yang disebabkan oleh pertemuan dua dunia (Barat dan Afrika/non-Barat) dan bernada pesimistik, bahkan elegik (ratapan). Sedangkan novel yang kedua memberikan petunjuk tentang apa yang terjadi bila kedua dunia yang berseteru itu hidup berdampingan, dan dengan demikian memberikan harapan bahwa orang Afrika saat ini tetap bisa bertahan dalam dunia yang telah berubah.

Namun demikian, Things Fall Apart tetap menjadi landmark dalam kesusastraan Afrika modern dan dunia. Kemunculannya menjadi pendobrak bagi kejumudan sastra Afrika pada masanya, ketika konsepsi literer masih dikuasai roman yang Barat-sentris, primitivisme dan sentimen-sentimen kolonial.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *